Selasa, 26 Oktober 2010

Mitologi Pasaran dan Hari

Sejak dahulu orang Jawa telah mempunyai “perhitungan“( petung Jawa ) tentang pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Perhitungan itu meliputi baik buruknya pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Khusus tentang hari dan pasaran terdapat di dalam mitologi sebagai berikut :

1.Batara Surya ( Dewa Matahari ) turun ke bumi menjelma menjadi Brahmana Raddhi di gunung tasik. Ia menggubah hitungan yang disebut Pancawara ( lima bilangan ) yang sekarang disebut Pasaran yakni : Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon nama kunonya : Manis, Pethak ( an ) Abrit ( an ) Jene ( an ) Cemeng ( an ), kasih. ( Ranggowarsito R.NG.I : 228 )

2.Kemudian Brahmana Raddhi diboyong dijadikan penasehat Prabu Selacala di Gilingwesi sang Brahmana membuat sesaji, yakni sajian untuk dewa-dewa selama 7 hari berturut-turut dan tiap kali habis sesaji, hari itu diberinya nama sebagai berikut

a. Sesaji Emas, yang dipuja Matahari. Hari itu diberinya nama Radite, nama sekarang : Ahad.

b. Sesaji Perak, yang dipuja bulan. Hari itu diberinya nama : Soma, nama sekarang : Senen.

c. Sesaji Gangsa ( bahan membuat gamelan, perunggu ) yang dipuja api, hari itu diberinya nama : Anggara, nama sekarang Selasa.

d. Sesaji Besi, yang dipuja bumi, hari itu diberinya nama : buda, nama sekarang : Rebo.

e. Sesaji Perunggu, yang dipuja petir. Hari itu diberinya nama : Respati, nama sekarang : Kemis.

f. Sesaji Tembaga, yang dipuja Air. Hari itu diberinya nama : Sukra, nama sekarang : Jumat

g. Sesaji Timah, yang dipuja Angin. Hari itu diberinya nama : Saniscara disebut pula : Tumpak, nama sekarang : Sabtu.

Nama sekarang hari-hari tersebut adalah nama hari-hari dalam Kalender Sultan Agung, yang berasal dari kata-kata Arab ( Akhad, Isnain, Tslasa, Arba’a, Khamis, Jum’at, Sabt ) nama-nama sekarang itu dipakai sejak pergantian Kalender Jawa – Asli yang disebut Saka menjadi kalender Jawa / Sultan Agung yang nama ilmiahnya Anno Javanico ( AJ ). Pergantian kalender itu mulai 1 sura tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042 = Kalender masehi 8 Juli 1633. Itu hasil perpaduan agama Islam dan kebudayaan Jawa.

Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali. Rangkaian kalender saka seperti : Nawawara ( hitungan 9 atau pedewaan ) Paringkelan ( kelemahan makhluk ) Wuku ( 30 macam a’7 hati, satu siklus 210 hari ) dll.

Dipadukan dengan kalender Sultan Agung ( AJ ) tersebut, keseluruhan merupakan petungan ( perhitungan ) Jawa yang dicatat dalam Primbon. Dikalangan suku Jawa, sekalipun di lingkungan kaum terpelajar, tidak sedikit yang hingga kini masih menggunakannya ( baca : mempercayai ) primbon.

Sadulur Papat Kalima Pancer

Hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu menurut kepercayaan Jawa adalah sejalan dengan ajaran “ Sedulur papat, kalima pancer “ empat saudara sekelahiran, kelimanya pusat.

Ajaran ini mengandung pengertian bahwa badan manusia yang berupa raga, wadag, atau jasad lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari, tanah, air, api dan udara. Empat unsur itu masing-masing mempunyai tempat di kiblat empat. Faktor yang kelima bertempat di pusat, yakni di tengah.

Lima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran, maka persamaan tempat pasaran dan empat unsur dan kelimanya pusat itu adalah sebagai berikut :

1. Pasaran Legi bertempat di timur, satu tempat dengan unsur udara, memancarkan sinar ( aura ) putih.

2. Pasaran Paing bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur Api, memancarkan sinar merah.

3. Pasaran Pon bertempat di barat, satu temapt dengan unsur air, memancarakan sinar kuning.

4. Pasaran Wage bertempat di utara, satu tempat dengan unsur tanah, memancarkan sinar hitam

5. Kelima di pusat atau di tengah, adalah tempat Sukma atau Jiwa, memancarkan sinar manca warna ( bermacam-macam )

Dari ajaran sadulur papat, kalima pancer dapat diketahui betapa pentingnya Pasaran Kliwon yang tempatnya ditengah atau pusat ( sentrum ) tengah atau pusat itu tempat jiwa atau sukma yang memancarkan daya – perbawa atau pengaruh kepada “ Sadulu Papat atau Empat Saudara ( unsur ) sekelahiran.

Satu peredaran “ Keblat papat kalima pancer “ itu dimulai dari timur berjalan sesuai dengan perputaran jam dan berakhir di tengah ( pusat ) Peta dari jalannya dapat digambarkan sebagai berikut :

menep ing rahsa sateleng kalbu

amatek cipta ambasuh sukma

sumunaring raga ambudidaya

Nora iguhing palena pikir

imaningsun anuju dhat luhur

Nembah asaling muasal

oncat hawa lereming asepi

Budaya Djawa

Mari kita mengutip satu tembang Jawa

Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan ini

Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu

Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya

Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat

Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah

Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih

Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.

Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.

Kejawen adalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkebang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.

Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat

yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlhilan ). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.

Neptu Hari

Minggu Pon : 12
Senin Pon : 11
Selasa Pon : 10
Rabu Pon : 14
Kamis Pon : 15
Jum’at Pon : 13
Sabtu Pon : 16
Minggu Kliwon : 13
Senin Kliwon : 12
Selasa Kliwon : 11
Rabu Kliwon : 15
Kamis Kliwon : 16
Jum’at Kliwon : 14
Sabtu Kliwon : 17
Minggu Pahing : 14
Senin Pahing : 13
Selasa Pahing : 12
Rabu Pahing : 16
Kamis Pahing : 17
Jum’at Pahing : 15
Sabtu Pahing : 18
Minggu Wage : 9
Senin Wage : 8
Selasa Wage : 7
Kamis Wage : 12
Jum’at Wage : 10
Sabtu Wage : 13
Minggu Legi : 10
Senin Legi : 9
Selasa Legi : 8
Rabu Legi : 12
Kamis Legi : 13
Jum’at Legi : 11
Sabtu Legi : 14

Pembuatan Nama

Neptu hari :
Mingggu : 5
Senin : 4
Selasa : 3
Rabu : 7
Kamis : 8
Jum’at : 6
Sabtu : 9
Neptu Huruf sbb : Ha 1, Na 2, Ca 3, Ra 4, Ka 5, Da 6, Ta 7, Sa 8, Wa 9, La 10, Pa 11, Dha 12, Ja 13, Ya 14, Nya 15, Ma 16, Ga 17, Ba 18, Tha 19, Nga 20
Neptu Pasaran : Pon 7, Wage 4, Kliwon 8, legi 5, Pahing 9

Jumlahkan Neptu Weton ( hari dan pasaran ) dengan Neptu Huruf nama. Dari penjumlahan dikurangi lima-lima.
Contoh :
1. Kelahiran Jum,at Legi
2. Nama Sutoyo = S 8, T 7, Y 14 = 29
Penjumlahan 11+29 = 40 dikurangi lima-lima habis

Arti Sebuah Nama

1. Sri : Artinya selamat dan banyak rejekinya

2. Lungguh : Berkedudukan baik dan berpangkat

3. Gedhong : Kelak dapat berhasil dan kaya

4. Lara : Selalu menderita dan sakit-sakitan

5. Pati : Kelak akan menderita, tidak berumur panjang


Perjodohan

Neptu huruf :

Ha = 6 Na = 3 Ca = 3 Ra = 3 Ka = 3
Da = 5 Ta = 3 Sa = 3 Wa = 6 La = 5
Pa = 1 Dha = 4 Ja = 3 Ya = 8 Nya = 3
Ma = 5 Ga = 1 Ba =2 Tha = 4 Nga = 2
Caranya dengan menjumlahkan nama calon pengantin pria dan wanita ambil huruf hidupnya saja

Contoh :
Waluyo : W =6 L = 5 Y =8 = 19
Prihatini : P = 1 H = 6 T =3 N =3 = 13
19 + 13 = 32 dikurangi tujuh – tujuh ( 4 )

Hitungan Sisa sbb :

1. Tunggak Tan Semi : Sengsara selama menjadi pasangan

2. Pisang Pinugel : Cerai

3. Lumbung Gumulang : Melarat seumur hidup, boros

4. Sanggar Waringin : Menjadi pengoyom dan kaya

5. Pedaringan Kebak : Selalu dalam kecukupan, dan menjadi pelindung
6. Satria Lelaku : Harus berdagang dan bisa terhormat

7. Pandhita Mukti : Bahagia, tentram selamanya

Hitungan lain sbb :

1. Pisang Pinunggel : Mati, artinya bila punya anak lelaki, ayahnya yang meninggal, bila punya anak wanita maka ibunya yang akan meninggal lebih dulu.

2. Sanggar Waringin : Mendapat keteduhan ( tentram dan bahagia )

3. Gedhong Rembulan : Cepat Kaya, tetapi sering tertipu

4. Bale Kedhawang : Menakutkan ,selalu gelisah

5. Liman Plasungan : Gajah sering lepas, bila punya anak sesudah besar akan meninggal

6. Warak Pangrungruman : Pandai mencari simpati, gampang cari rejeki, tetapi tidak pandai menyimpannya

7. Garangan Macan : Pandai cari uang tapi sering tertipu

Menghitung Hari

Cth : 12 April 1974

1. Tahun diambil dua angka belakang 74
2. Tahun 74 : 4 18
3. Angka Bulan 4
4. Tanggal 12 +
Jumlah 108
6-
Sisa 102 : 7 =4
( Jum’at)

Menghitung Pasaran

1. Tahun 74 : 4 = 18
2. Angka bulan = 4
3. Tanggal = 12+
Jumlah = 34
2-
Sisa 32 : 5 =2 ( legi )

Hari Pernikahan

Hitungan Neptu hari dan pasaran, ketika acara berlangsung dan dikurangi tujuh-tujuh, jumlahnya adalah jawaban keadaan pengantin dikemudian hari. Bila sisanya sbb :

1. Wasesa Segara : Luas pandangan hidupnya, sangat berwibawa

2. Tunggak semi : Banyak anak tetapi sering sakit-sakitan
3. Satria Wibawa : Selalu mendapat keberuntungan dan dapat kaya

4. Sumur Sinaba : Selalu menjadi pengayoman, menolong orang

5. Satria Wirang : Selalu sengsara, melarat

6. Bumi Kapetak : Selalu tersisih, tetapi dapat simpan harta

7. Lebu Katiup Angin : Selalu kekurangan, selalu pindahrumah, dan sering pindah kerjaan dan kehidupannya tidak menentu

Hitungan lainnya :

Jumlahkan Neptu hari dan pasaran kedua calon pengantin dan kurangi empat-empat, kalau sisanya ssb :

1. Gentho : Sulit mendapatkan anak

2. Gembili : Banyak anaknya

3. Sri : Banyak rejekinya

4. Punggel : Salah satu mati muda

Mendirikan Rumah

Jumlah Neptu hari dan pasaran ketika akan mendirikan rumah/membangun rumah, dari jumlah itu dikurangi lima-lima, bila sisanya :

1. Kerta : Mendapat kejayaan

2. Yasa : Mendapat Kejayaan

3. Candi : Mendapat keberuntungan

4. Rogoh : Sering kemasukan pencuri

5. Sempoyong : Sering pindah rumah

Pindah Rumah

Jumlahkan Neptu hari dan pasaran pada hari saat mau pindah rumah, jumlahnya dikurangi enam-enam, bila sisanya sbb:

1. Pitutur : Banyak kesulitan

2. Demang Kandhuruwan : Sering menderita sakit

3. Satria Pinayungan : Banyak yang memuji dan terhormat

4. Mantri Sinaroja : Disenangi tetangga dan orang banyak

5. Macan Ketawan : Sering bertengkar dan digugat

6. Nuju Pati : Serig menderita dan selalu sedih

Neptu dan hari pasaran yang dipakai bb :

Jum’at 1, Sabtu 2, Ahad 3, Senin 4, Selasa 5, Rabu 6, Kamis 7.
Kliwon 1, Legi 2, Paing 3, Pon 4, Wage 5

Hitungan lain :

Jumlah Neptu hari dan pasaran dikurangi empat-empat, bila sisa sbb :

1. Kerta, dihormati oleh tetangga
2. Yasa, Tentram dan tenang hidupnya
3. Rogoh, Sering didatangi pencuri
4. Sempoyong, Sering pindah rumah

Bila jumlah Neptunya sbb :

Jumlah Neptu Weton Menghadap ke

7 Utara atau Timur
8 Utara atau Timur
9 Selatan atau Timur
10 Selatan atau Barat
11 Barat
12 Utara atau Barat
13 Utara atau Timur
14 Selatan atau Timur
15 Barat
16 Barat
17 Utara atau Barat
18 Utara atau Timur

Kelemahan Naga

No Hari/ Pasaran Kedudukan Tidur Bangun Lengah Naga

1 Minggu Pon Timur Laut 09.00 00.00 10.00 - 22.00

2 Senin Wage Barat Laut 08.00 23.00 09.00 - 22.00

3 Selasa Kliwon Timur 12.00 16.00 13.00 - 15.00

4 Rabu Legi Timur Laut 08.00 23.00 09.00 - 22.00

5 Kamis Pahing Timur Laut 08.00 15.00 09.00 – 15.00

6 Jum’at Pon Barat Laut 11.00 00.00 12.00 - 23.00

7 Sabtu Wage Barat Laut 08.00 00.00 19.00 - 23.00

8 Minggu Kliwon Barat Laut 09.00 00.00 10.00 - 22.00

9 Senin Legi Barat daya 08.00 23.00 09.00 - 22.00

10 Selasa Pahing Timur Laut 12.00 16.00 13.00 – 16.00

11 Rabu Pon Barat Daya 08.00 23.00 09.00 - 22.00

12 Kamis Wage Timur Laut 08.00 15.00 09.00 – 14.00

13 Jum’at Kliwon Barat Daya 11.00 00.00 12.00 – 23.00

14 Sabtu Legi Barat Daya 08.00 00.00 09.00 - 23.00

15 Minggu Pahing Barat Daya 09.00 00.00 10.00 - 23.00

16 Senin Pon Timur 08.00 23.00 09.00 - 22.00

17 Selasa Wage Timur Laut 12.00 16.00 13.00 - 15.00

18 Rabu Kliwon Tenggara 08.00 23.00 09.00 - 22.00

19 Kamis Legi Barat Laut 08.00 16.00 09.00 - 15.00

20 Jum’at Pahing Tenggara 11.00 00.00 12.00 - 23.00

21 Sabtu Pon Timur 08.00 00.00 09.00 – 23.00

22 Minggu Wage Barat Daya 09.00 00.00 10.00 – 23.00

23 Senin Kliwon Timur Laut 08.00 23.00 09.00 - 22.00

24 Selasa Legi Barat Laut 12.00 16.00 13.00 - 15.00

25 Rabu Pahing Timur 08.00 23.00 09.00 - 22.00

26 Kamis Pon Tenggara 08.00 15.00 09.00 - 14.00

27 Jum’at Wage Tenggara 11.00 00.00 12.00 - 23.00

28 Sabtu Kliwon Timur Laut 08.00 00.00 09.00 – 23.00

29 Minggu Legi Tenggara 09.00 00.00 10.00 – 23.00

30 Senin Pahing Barat Laut 08.00 23.00 09.00 - 22.00

31 Selasa Pon Tenggara 12.00 16.00 13.00 – 15.00

32 Rabu Wage Timur 08.00 23.00 09.00 - 22.00

33 Kamis Kliwon Timur 08.00 23.00 09.00 - 22.00

34 Jum’at Legi Timur 11.00 00.00 12.00 – 23.00

35 Sabtu Pahing Timur 08.00 00.00 09.00 - 23.00

Penjelasan Kedudukan Sang Naga

Apabila dihitung Neptu hari da pasarannya sbb :

1. 7, 12, 17 : Naga berada di Timur Laut
2. 8, 13 : Naga berada di Barat Laut
3. 9, 14 : Naga berada di Barat Daya
4. 10, 15 : Naga berada di Tenggara
5. 11, 16, 18 : Naga berada di Timur

Rotasi Waktu Pancaran Daya
Rotasi Jam
Malam 18.00-20.00 20.00-21.00 21.00-23.00 23.00-01.00 01.00-03.00 03.00-04.00 04.00-06.00
Siang 06.00-08.00 08.00-09.00 09.00-11.00 11.00-13.00 13.00-15.00 15.00-16.00 16.00-18.00
Hari 1 2 3 4 5 6 7
Minggu Kuning Hitam Hijau Putih Merah Putih Merah
Senin Hitam Hijau Putih Merah Putih Merah Kuning
Selasa Hijau Putih Merah Putih Merah Kuning Hitam
Rabu Putih Merah Putih Merah Kuning Hitam Hijau
Kamis Merah Putih Merah Kuning Hitam Hijau Putih
Jum’at Putih Merah Kuning Hitam Hijau Putih Merah
Sabtu Merah Kuning Hitam Hijau Putih Merah Putih



Pasaran 1 2 3 4 5 6 7
Pon Kuning Hitam Hijau Putih Merah Kuning Hitam
Wage Hitam Hijau Putih Merah Kuning Hitam Hijau
Kliwon Hijau Putih Merah Kuning Hitam Hijau Putih
Legi Putih Merah Kuning Hitam Hijau Putih Merah
Paing Merah Kuning Hitam Hijau Putih Merah Kuning

Kuning : Ego, Harga Diri, Kederajatan

Hitam : Lumawah, nafsu, kebendaan, uang

Hijau : Kasih sayang, Mulhimah, nafsu ingin tahu

Putih : Kesucian, Kepandhitaan, Spiritual, Diam

Merah : Amarah keserakahan, galak, dan pemberani

* Membuka suatu usaha : warnanya hitam-hitam ( banyak uang )
* Membuka kantor : waktunya adalah kuning-kuning ( sukses )
* Membuka Badan Sosial : Warnanya hijau putih( kasih dan suci )
* Mendirikan sesuatu bersifat keamanan : Merah-merah ( wibawa )

Bawana Ageng dan Bawana Alit

1. Warna Kuning berada di Paru-paru, hari Minggu pasaran Pon

2. Warna Hitam berada di Perut, hari Senin pasaran Wage

3. Warna Hijau berada di Jantung, hari Selasa pasaran Kliwon

4. Warna Putih berada di Buah Pinggang, hari Rabu pasaran Legi

5. Warna Merah berada di Hati/Lever, hari Kamis pasaran Paing

6. Warna Putih berada di Ginjal, hari Jum’at pasaran Legi

7. Warna Merah berada di Hati ( perut bgn kanan ), hari Sabtu pasarannya Paing


Mengetahui Jalannya Hitungan Hari Mingguan

1. Bila hari “Ahad” hitungannya bertemu “lima”, utara tempatnya , rupanya kelabu dan Nabinya Nuh
2. Bila hari “ Senin” hitungannya bertemu “empat” penghidupannya selatan, rupanya kuning, Nabinya Musa
3. Bila hari “Selasa” hitungannya bertemu “tiga” penghidupannya selatan barat, rupanya merah kuning, Nabinya Isa
4. Bila hari “Rabu” hitungannya bertemu “tujuh” penghidupannya selatan timur, rupanya hitam putih, Nabinya Ibrahim
5. Bila hari “Kamis” hitungannya bertemu “delapan” penghidupannya di timur persis, rupanya merah, Dewi Fatimah
6. Bila hari “Jum’at” hitungannya bertemu “enam” penghidupannya di barat persis, rupanya hitam, Nabinya Muhammad
7. Bila hari “Sabtu” hitungannya bertemu “Sembilan” penghidupannya utara barat, rupanya putih, Nabinya Yusuf

Mengetahui Jalannya Hitungan Hari Pasaran

1. Bila hari “Legi” hitungannya bertemu “lima”, timur tempatnya, rupanya putih, kotanya selaka, lautnya santan kelapa, burungnya bangau, kayunya sekar petak, wayangnya Narada
2. Bila hari “Pahing” hitungannya bertemu “sembilan” selatan tempatnya, rupanya merah, kotanya tembaga, lautnya darah, burungnya kuning, kayunya ingas, wayangnya Batara Brahma
3. Bila hari “Pon” hitungannya bertemu “tujuh” , barat tempatnya, rupanya kuning, kotanya kencana, lautnya madu, burungnya kepodang, kayunya kemuning wayangnya Batara Kamajaya
4. Bila hari “ Wage” hitungannya bertemu “empat” utara tempatnya, rupanya hitam, kotanya besi, lautnya nila, burungnya dandang, kayunya telasih, wayangnya batara Wisnu
5. Bila hari “Kliwon” hitungannya bertemu “delapan” tengah persis tepatnya, rupanya ada putih ada merah, ada kuning majupat, kotanya selaka, tembaga, kencana, besi, lautnya majupat timur santan kelapa, selatan darah, barat madu, utara nila sedangkan burungnya bayan dengan ules bermacam-macam.

Pertemuan Hari Pasaran

Bila bertemu “Tujuh” maka itu jelasnya Bumi

Bila bertemu “ Delapan “ maka itu jalannya Api

Bila bertemu “Sembilan” maka itu jalannya ‘Arsy empat

Bila bertemu “Sebelas” maka itu jalannya Bunga

Bila bertemu “ Duabelas” maka itu jalannya Syetan

Bila bertemu “ Tigabelas” maka itu jalannya Bintang

Bila bertemu “ Empatbelas” maka itu jalannya Bulan

Bila bertemu “Limabelas” maka itu jalannya Matahari

Bila bertemu “ Enambelas” maka itu jalannya Air

Bila bertemu “Tujuhbelas” maka itu jalannya Bumi

Bila bertemu “Delapanbelas” maka itu jalannya Api

Masalah Hari untuk mencari Sandang Pangan

1. Bila hari Jum’at Kliwon, maka sandang berada di barat , pangan di selatan, sakit berada di selatan
2. Bila hari Sabtu Legi, maka sandang berada di selatan , pangan dan sakit di barat, pati berada di Timur
3. Bila hari Ahad Pahing, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan timur, pati berada di utara
4. Bila hari Senen Pon, maka sandang berada di utaras , pangan di selatan, sakit berada di timur dan pati di barat
5. Bila hari Selasa Wage, maka sandang berada di selatan , pangan di utara, sakit berada di timur, pati berada di barat
6. Bila hari Rabu Kliwon, maka sandang berada di utara , pangan di timur, sakit berada di barat dan pati di selatan
7. Bila hari Kamis Legi, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
8. Bila hari Jum’at Pahing, maka sandang berada di barat , pangan di barat, sakit dan pati berada di selatan
9. Bila hari Sabtu Pon, maka sandang berada di selatan , pangan di timur, sakit berada di barat dan pati di utara
10. Bila hari Ahad Wage, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan, dan pati di utara
11. Bila hari Senen Kliwon, maka sandang berada di selatan , pangan di timur, sakit berada di barat dan pati di utara
12. Bila hari Selasa Legi, maka sandang berada di utara , pangan di selatan, sakit berada di timur dan pati di utara
13. Bila hari Rabu Pahing, maka sandang berada di utara , pangan di barat, sakit berada di timur dan pati di selatan
14. Bila hari Kamis Pon, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
15. Bila hari Jum’at Wage, maka sandang berada di barat , pangan di selatan, sakit berada di utara dan pati di timur
16. Bila hari Sabtu kliwon, maka sandang berada di selatan , pangan di barat, sakit berada di timur dan pati di utara
17. Bila hari Ahad Legi, maka sandang berada di timur , pangan dan sakit berada di utara dan pati di selatan
18. Bila hari Senen Pahing, maka sandang berada di selatan , pangan di utara, sakit berada di timur dan pati di utara
19. Bila hari Selasa Pon, maka sandang berada di timur , pangan di barat, pati berada di utara
20. Bila hari Rabu Wage, maka sandang berada di utara , pangan di barat, sakit berada di timur dan pati di barat
21. Bila hari kamis Kliwon, maka sandang berada di timur , pangan di selatan, sakit berada di barat dan pati di utara
22. Bila hari Jum’at Legi, maka sandang dan pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
23. Bila hari Sabtu Pahing, maka sandang berada di selatan , pangan di utara, sakit berada di timur dan pati barat
24. Bila hari Ahad Pon, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati utara
25. Bila hari Senen Wage, maka sandang berada di selatan , pangan di utara, sakit berada di timur dan pati barat
26. Bila hari Selasa Kliwon, maka sandang berada di selatan , pangan di timur, sakit berada di barat dan pati di utara
27. Bila hari Rabu Legi, maka sandang berada di utara , pangan di selatan, sakit berada di barat dan pati di timur
28. Bila hari Kamis Pahing, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
29. Bila hari Jum’at Pon, maka sandang berada di barat , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
30. Bila hari Sabtu Wage, maka sandang berada dan pangan di selatan, sakit berada di timur dan pati di barat
31. Bila hari Ahad Kliwon, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
32. Bila hari Senen Legi, maka sandang berada di selatan , pangan di utara, sakit berada di timur dan pati barat
33. Bila hari Selasa Pahing, maka sandang berada di selatan , pangan di utara, sakit berada di barat dan pati di timur
34. Bila hari Rabu Pon, maka sandang berada di utara , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara
35. Bila hari kamis Wage, maka sandang berada di timur , pangan di barat, sakit berada di selatan dan pati di utara

Masalah waktu mencari rejeki

Bila hari ahad pagi, rizki besar hingga tengah hari, dari tengah hari hingga terbenan matahari rizki kecil

Bila hari senin pagi rizki kecil hingga tengah hari, dari tengah hari hingga terbenan matahari rizki besar

Bila hari selasa pagi, rizki condong ke timur, kala tengah hari hingga waktu ashar rahayu

Bila hari rabu pagi kala condong ke timur rizki kecil, tengah hari lingsir ke barat rahayu, ashar rizki besar

Bila hari kamis pagi rahayu, lingsir ke timur rizki besar, kala tengah hari rizki kecil, dari barat hingga ashar rahayu

Bila hari jum’at pagi kala lingsir ke timur rizki kecil, dari lingsir kebarat hingga ashar rahayu

Bila hari sabtu pagi lingsir ke timur rizki kecil, kala lingsir ke barat riski besar

Na’asnya Hari

Dalam 12 bulan, ada tiga bulan sekali terdapat hari na’as dan 3 bulan sekali yang terdapat hari na’as itu ialah :

Bila bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulqaidah, na’asnya pada hari jum’at

Bila bulan Dzul Hijjah, Muharam dan Safar, na’asnya jatuh pada hari sabtu dan ahad

Bila bulan Robi’ul awal, Rajab dan Sya’ban, na’asnya jatuh pada hari rabu dan kamis

Bila bulan Rabi’ul awal, Rabi’ul akhir dan Jumadil awal, na’asnya jatuh pada hari Senen dan selasa

Ini dinamakan “ Jati Ngarang” maka berhati-hati dalam bercocok tanam, bepergian atau mendirikan rumah atau kegiatan lainnya karena bisa membawa celaka atau terkena cobaan. Untuk membangun rumah yang paling baik adalah pada bulan Safar, Rabi’ul Akhir dan Sya’ban

Pranata Mangsa

Untuk mengetahui peralihan musim, yang dibagi dalam 12 masa yang merupakan peristiwa yang perlu diberikan tanda, baik untuk memprediksi masa depan , kelahiran seseorang, bercocok tanam maupun perjalanan

Kasa (1)

1. Berotasi selama :41 hari (23 juni – 2 agustus )
2. Dewanya : Bathara Antaboga
3. Candra : ratna jatuh dari tatahan

1. Tanda-tanda : musim kemarau, pohon-pohon tidak berdaun, mulai palawija, belalang bertelur, matahari digaris utama menuju selatan dana ngin bertiup dari timur laut ke barat daya

1. Watak kelahiran : bertabiat suka menolong orang
2. Sifat : sedang, labil
3. Batu : Jamrud, onix, mata kucing
4. Warna : hitam, merah
5. bunga : melati, gardena dan sedap malam

Karo (2)

1. Berotasi selama : 23 hari (3 agustus – 25 agustus)
2. Dewanya : Bathari Sakri
3. Candra : Tanah yang retak

1. Tanda-tanda : Musim kemarau, tanah terbelah karena kering, tanaman palawija harus dapat air, pohon kapuk dan mangga keluar daun mudanya. Matahari bergeser dari utara ke selatan, angina bertiup dari barat laut ke barat daya

1. Watak kelahiran : bertabiat jorok
2. Sifat : aktif tapi roboh
3. Batu : ruby, topas, berlian dan turmalin
4. Warna : hitam, jambon
5. Bunga : melati, lely dan anggrek

Katiga (3)

1. Berotasi selama : 23 hari (26 agustus – 18 september)

2. Dewanya : Bathara kamajaya

3. Candra : anak menuruti ayah

4. Tanda-tanda : musim kemarau, mulai tumbuh ubi, gadung bangsa temu, bumbu, mulai memetik palawija. Matahari dari utara masuk garis kathulistiwa, angina bertiup dari utara ke selatan

5. Watak kelahiran : bertabiat kikir

6. Sifat : disenangi orang lain

7. Batu : pink, giok dan akik

8. Warna : kuning, hijau

9. Bunga : melati, lely dan anggrek

Kapat (4)

1. Berotasi selama : 25 hari (19 september -13 oktober)

2. Dewanya : Bhatara Asmara

3. Candra : pancuran emas berhamburan di bumi

4. Tanda-tanda : musim labuh, memasuki musim hujan, sumur kering, pohon kapukberbuah, burung manyar membuat sarang,. Matahari di garis khatulistiwa, angina bertiup dari barat laut ke tenggara

5. Watak kelahiran : bertabiat serba baik

6. Sifat : rapi, senang menolong

7. Batu : Opal, berlian, mirah dan merjan

8. Warna : biru, merah anggur

9. Bunga : melati, anggrek dan gladiol

Kalima (5)

1. Berotasi selama : 27 hari (14 oktober – 9 nopember)

2. Dewanya : Bhatara Asmara

3. Candra : pancuran emas berhamburan di bumi

4. Tanda-tanda : musim labuh, memasuki musim hujan, sumur kering, pohon kapuk berbuah, burung manyar membuat sarang,. Matahari di garis khatulistiwa ke selatan, angina bertiup dari barat laut ke tenggara

5. Watak kelahiran : bertabiat suka mencela

6. Sifat : banyak bicara dermawan

7. Batu : topaz, kalimaya dan aquamarine

8. Warna : merah, putih

9. Bunga : melati, anggrek dan gardena

Kanem (6)

1. Berotasi selama : 43 hari ( 10 nopember – 22 desember )

2. Dewanya : Bhatara Guru

3. Candra : pancuran emas berhamburan di bumi

4. Tanda-tanda : Musim hujan, musim buah mangga, rambutan, dan mulai membajak sawah. Matahari bergeser lagi ke selatan angina kencang dari abart ke timur

5. Watak kelahiran : tajam otaknya/ cerdas

6. Sifat : cerdas sombong

7. Batu : intan, safir dan nilam

8. Warna : hijau, merah jambu

9. Bunga : melati suplir, lely dan mawar merah

Kapitu (7)

1. Berotasi selama : 43 hari (23 desember – 3 februari

2. Dewanya : Bhatara Indra

3. Candra : bisa terbang tertiup angin

4. Tanda-tanda : musim penyakit, banjir, angina besar, mulai tanam pagi. Matahari berada di posisi sebelah selatan, angina kencang dari barat, tak tentu arah

5. Watak kelahiran : bertabiat sedang,

6. Sifat : panjang tangan

7. Batu : biduri bulan dan pirus

8. Warna : hijau biru

9. Bunga : melati sedap malam dan lely

Kawolu (8)

1. Berotasi selama : 27 hari (4 februari – 1 maret )

2. Dewanya : Bhatara Brahma

3. Candra : Tersiar dalam kehendak

4. Tanda-tanda : Musim hujan, tanaman padi mulai berbuah, banyak ulat dalam tanah. Matahari dari selatan bergeser ke utara, angina dari barat laut ke timur tak tentu arah

5. Watak kelahiran : bertabiat sedang,

6. Sifat : keras tapi dermawan

7. Batu : safir biru dan kalimaya

8. Warna : biru tua, hijau dan merah muda

9. Bunga : gladiol, gardena, aster dan mawar

Kasanga (9)

1. Berotasi selama : 25 hari (2 maret – 26 maret )

2. Dewanya : Bhatara Bayu

3. Candra : Ucapan yang lemah lembut

4. Tanda-tanda : Musim hujan, gangsir dan gareng (uir-uir) berbunyi, anjing birahi, tanaman padi hampir tua, burung kegirangan. Matahari berada pada garis khatulistiwa, angin dari selatan bertiup kencang

5. Watak kelahiran : tidak dapat berbicara dengan lemah lembut

6. Sifat : bicara seenaknya kadang seronok

7. Batu : safir, jamrud, kecubung

8. Warna : biru, hijau dan hitam dan abu-abu

9. Bunga : melati, mawar, gardena , kentil

Kasadasa (10)

1. Berotasi selama : 24 hari ( 27 maret – 19 april )

2. Dewanya : Bhatara Bisma

3. Candra : Gedong tertutup dalam hati

4. Tanda-tanda : Peralihan musim hujan ke musim kemarau, musim binatang mengandung, burung membuat sarang, padi sudah tua, siap panen, nelayan melaut. Matahari bergeser ke utara. Angin dari tenggara bertiup cukup kuat

5. Watak kelahiran : bertabiat suka sakit hati

6. Sifat : berkorban/ mengalah

7. Batu : kecubung, badarbesi dan biduri

8. Warna : merah, kuning

9. Bunga : gladiol, merah, mawar merah

Jestha/ destha (11)

1. Berotasi selama : 24 hari ( 20 april – 12 mei )

2. Dewanya : Bhatara Yamadipati

3. Candra : Intan diasah/ setia akan persaudaraan

4. Tanda-tanda : Musim kemarau, telur burung sudah menetas, puncak panen padi, unggas kekeringan. Matahari bergeser lagi ke utara, angina dari tenggara berhembus ke timur laut

5. Watak kelahiran : bertabiat suka mengambil barang orang

6. Sifat : kurang semangat

7. Batu : jamrud dan safir

8. Warna : merah anggur, jingga

9. Bunga : gladiol, mawar dan anyelir

Sadha (12)

1. Berotasi selama : 41 hari ( 13 mei – 22 juni )

2. Dewanya : Bhatara Yamadipati

3. Candra : Intan diasah/ setia akan persaudaraan

4. Tanda-tanda : hawa dingin, mulai panen buah jeruk, apel, nenas, dll, akhir panen padi musim tanam palawija. Matahari ke utara lagi, angina sepoi-sepoi dari timur ke barat

6. Sifat : dualisme tapi membimbing ilmu/ kepemimpinan

7. Batu : jamrud, aquamarine dan akik

8. Warna : biru, kuning dan putih

9. Bunga : melati, gardena dan anyelir

Alamat Bintang Kemukus

1. Timur : Ada raja-raja berduka cita, para bupati kesusahan, orang desa semua kesusahan, banyak hujan, beras, padi murah emas dan intan susah dicari
2. Tenggara : Ada raja wafat, orang dbanyak berpindah tempat, jarang hujan, buah-buahan banyak gugur, banyak penyakit, sedikit beras dan padi, kerbau dan sapi murah
3. Selatan : Ada raja wafat, para bupati dan bawahannya sam susah, banyak hujan, padi, buah dan beras berhasil baik, kerbau sapi murah, tetapi orang desa semua kesusahan, sedih
4. Barat Daya : Ada raja atau pembesar wafat, orang desa dapat banyak kebaikan, buah-buahan berhasil baik, beras dan padi murah, kerbau dan sapi banyak yang mati
5. Barat : Ada raja diangkat, orang desa semua senang, banyak hujan, berhasil semua tanaman, beras dan padi murah
6. Barat Laut : Ada raja merebut kedudukan, para bupati dan bawahannya berebutan, orang desa semua berduka cita, banyak hujan, halilintar menyambar, ada gerhana, kerbau dan sapi (ternak) banyak yang mati, sedikit padi dan beras, emas dan intan murah
7. Utara : Ada raja kesusahan dalam pemerintahannya, para bupati berebutan banyak yang tewas, orang desa semua kesusahan, jarang hujan, emas, intan murah
8. Timur Laut : Ada raja ditinggal rakyatnya, para bupati dan bawahannya banyak mati berperang, desa-desa hancur, rakyat menderita duka cita, jarang ada beras, padi, kerbau, sapi murah, buah semua berhasil baik

Gerhana

1. Kasa : Dunia tentram, banyak orang berpindah tempat, orang mungkin akan senang, ternak tak kurang makan
2. Karo : Hujan lebat, pohon semua tumbuh, banyak orang memfitnah, banyak hujan angina
3. Katiga : Banyak hujan tanaman subur, orang desa banyak bertengkar, banyak bahaya
4. Kapat : Jarang hujan, dunia taka man, orang desa bertengkar, memfitnah, dan kecurian, pala gantung rusak dan panas terik
5. Kalima : Pikiran orang bimbang, banyak orang sakit, banyak orang berbuat tidak baik, tidak tentram hatinya
6. Kanem : Banyak orang merasa susah, banyak orang sakit, hasil bumi rusak, di desa-desa banyak pencuri, banyak berpindah tempat
7. Kapitu : Dunia tidak aman, orang bingung, menimbulkan keributan, banyak penyakit, krisis pangan dan orang susah
8. Kaulu : Rakyat berduka cita, negeri tidak aman, orang desa banyak bertengkar, dan banyak pindah tempat
9. Kasanga : Banyak orang bertengkar, kesusahan dan orang banyak menentang pemerintah
10. Kadasa : Buah-buahan banyak, dunia tidak aman, banyak orang dikutuk orang tuanya, orang besar bertentangan, orang banyak lupa orang tuanya, orang banyak mati, banyak mengungsi ke Negara lain dengan keluarganya
11. Destha : Dunia rusak, dagang susah, ada sesuatu meletus, orang berduka cita, banyak hujan
12. Saddha : Dunia rebut, tanaman tidak berhasil, jual beli sepi, banyak penyakit, orang berduka cita, jarang sandang pangan berkurang

Memilih Pekarangan

1. Miring ke timur, bernama manik mulia, lebur segala penyakit, banyak rejeki, selamat, tentram. Penolaknya tanami cocor bebek diujung barat
2. Miring ke barat, bernama Sri sedana, sering merebut pendapat, bertengkar, banyak penyakit. Penolaknya ditanami pohon pisang batu di sudut timur
3. Miring ke selatan, bernama Gelagah, hilang kekayaannya, sering mendapat bahaya. Penolaknya di tanami mawar (geni) ditengah karang
4. Miring ke utara, bernama Indraprasta, segala apa kehendaknya bisa jadi, kalo kaya bisa sampai ke anak cucu
5. Miring ke timur dan barat (ditengah tinggi) sebagai punggung sapi bernama Dharmalungit, akan memperoleh kekayaan banyak
6. Miring keselatan, tapi sebelah selatannya rawa, bernama Sekar sinom, kaya harta, sering kehilangan. Penolaknya ditanami pohon asam dan delima
7. Tinggi barat rendah utara bernama Danarasa, menjadi kaya istri dan kaya harta
8. Tinggi barat rendah timur, bernama Srinugraha, mendapat karunia dari Tuhan yang besar
9. Tinggi timur rendah barat bernama Kalawisa, tiada putus-putus kesakitan dan hampir mati
10. Gumulung (landai) utara bernama Wisnumanitis, banyak memperoleh rejeki, turun sampai anak cucu
11. Landai ke selatan bernama Shiwaboja, selalu mendapat godaan dan kesusahan
12. Rata (datar) membawa bianglala merah semu kunign bernama Brahma padam, angker tanah itu, sering membahayakan
13. Rata membawa kukuwung (bianglala) hijau menggenag bernama Endragana, selamat, baik
14. Dikelilingi gunung atau bubun gbernama Kaula Katubing Bala, menjadi kaya harta benda
15. Dikelilingi air bernama Sigarpenyalin, sering bertengkar. Penolaknya menanam air ditengah pekarangan
16. Disebelah barat gunung bernama Asungelak, sering dirusak orang,. Penolaknya membuang lungka( tanah liat kering)
17. Keluar air bernama Singhameta, kesakitan,. Penolaknya menanam batu ditengah0tengah pekarangan
18. Dikelilingi rejeng atau pangkung bernama Sunialayu, kaya anak
19. Diapit air disebelahnya jurang bernama Srimangepel, akan menjadi kaya beras dan padi
20. Diapit gunung bernama Luwurwangke, disenangi oleh kerbau, sapi, dll
21. Miring ke timur, utara gunung dan selatan gunung bernama Arjuna , besar hatinya, sering dimalui orang
22. Dikelilingi gunung dan dibayangi gunung bernama Tiga warna, ayem dan tentram, selalu bertapa
23. Rupanya (tanahnya) putih, rasanya manis, berbau harum itu bagus kedatangan kekayaan banyak
24. Rupanya (tanahnya) hijau, rasanya manis, pedas, baunya tengik, itu lebih bagus, kaya dan selamat
25. Rupanya merah, rasanya manis, baunya pedas, itu baik kaya ternak
26. Rupanya hitam, rasanya pahit, baunya amis, itu amat jelek, menjadi teman setan

Panduan Arah

1. Selatan

Merupakan unsur Api yang hangat atau panas, warna dominant pada arah ini adalah merah dan kuning terang, arah ini adalah tempat bagi putri kedua yang akan membawa nasib baik ( perempuan ) daripada pria dan binatang diarah ini adalah Phoenix yang akan memberikan kesempatan jabatan dan kenaikan status.

2. Utara

Unsur dari arah ini adalah Air dan merupakan dari dingin dan keheningan, warna yang dominant adalah hitam, biru dan ungu tua yang akan menguntungkan bagi arah ini. Merupakan tempat anak laki-laki kedua dan binatang langitnya adalah kura-kura yang akan membawa kebaikan bagi seluruh keluarga apabila ditaruh di arah ini.

3. Timur

Ini adalah tempat dari unsure kayu dan tempat terbaik bagi anak laki-laki sulung atau anak tunggal baik pria atau wanita, unsure kayu dianggap sebagai symbol perkembangan dan merupakan tempat dari naga hijau yang sangat menguntungkan dan untuk meningkatkan sudut ini berilah banyak tanaman hijau.

4. Barat

Ini merupakan tempat keceriaan, unsure pada arah ini adalah logam warna dominannya adalah putih dan arah ini merupakan tempat putri termuda dalam suatu keluarga, barat merupakan tempat macan putih.

5. Tenggara

Unsur di sudut ini adalah angin dan sudut ini dipercaya dapat memberikan kekayaan dengan memajang tanaman atau bunga di sudut ini atau berikan penerangan yang baik pada sudut ini untuk memberikan kesuksesan, tenggara adalah tempat dari anak perempuan tertua.

6. Barat Daya

Ini tempat dari garis Ibu dan merupakan unsure tanah, dan ini merupakan arah yang sangat penting bagi suatu rumah jangan biarkan arah ini dijadikan tempat yang kotor; gudang, kamar mandi… maka seluruh penghuni rumah akan mengalami kesengsaraan. Selalulah memeriksa sudut ini apabila ingin mendapat kebahagiaan dalam keluarga.

7. Timur Laut

Ini adalah tempat dari keheningan, gunung, unsurnya adalah tanah dan ini adalah tempat terbaik bagi anak laki-laki paling kecil dari suatu keluarga. Tepat sekali untuk menempatkan vas kemakmuran,

8. Barat Laut

Ini adalah tempat Ayah kepala keluarga, sama dengan BD arah ini adalah tempat vital dan tidak boleh digunakan untuk tempat yang kotor ; kamar mandi, tidak memerlukan penerangan yang berlebihan karena unsure logam yang besar sehingga api akan dapat menghancurkannya,warna terbaik adalah metalik atau putih.

Kelompok Timur dan Barat

Menentukan angka ;

Untuk Pria

Gunakan tahun kelahiran anda tambahkan dua angka terakhir jadikan satu angka lalu kurangkan hasil tambah tadi dengan 10

Contoh ;

Tahun lahir 1974

7+4= 11 dan 1+1= 2

10-2= 8

Angka kuanya adalah 8

Wanita

Gunakan tahun kelahiran anda tambahkan dua angka terakhir jadikan satu angka dan tambahkan 5, jika hasilnya lebih dari 10 jadikan satu angka lagi

Contoh :

Tahun lahir 1945

4+5= 9 dan 9+4= 13

1+3= 4

Angka Arah

1 Utara

2 Barat Daya

3 Timur

4 Tenggara

5 Barat Daya bagi pria, Timur laut bagi wanita

6 Barat Laut

7 Barat

8 Timur Laut

9 Selatan

Manfaat Burung Platuk Bawang

1. Paruhnya diatas dipakai nyepuh prabot(kerja) jadi bertuah
2. Paruh di bawah dipakai sisig, menyebabkan gigi kuat
3. Lidahnya dimakan menyebabkan pintar bicara
4. Matanya di gantung dalam rumah, menyebabkan kuat melek
5. Bulu kepalanya diletakkan di bawah tempat tidur bayi, menjauhkan segala penyakit
6. Kepalanya di bawa berperang, ditakuti oleh musuh
7. Otaknya dipakai pilis mata, menyebabkan jauh dari penyakit
8. Otaknya dicampur dengan kelapa hijau, dipakai meminyaki rambut, menyebabkan tumbuhnya rambut tebal
9. Otaknya dimakan, menyebabkan dikasihi oleh orang banyak
10. Darahnya dikeringkan, dipakai pupuk mata, mata menjadi awas, tidak mudah lamur
11. Dadanya dimakan, jika sakit akan lekas sembuh, tanam disawah amat baik menyebabkan tanah subur
12. Brutunya dimakan, menyebabkan ditakuti oleh orang
13. Lehernya dimakan, menyebabkan disenangi oleh anak-anak
14. Bulu sayap kanan kadut (pada ikat pinggang) bisa dikasihi orang
15. Bulu sayap kiri dipakai kekili telinga, menyebabkan tidak tuli
16. Sayap kanan di taruh di bawah tempat tidur, menyebabkan lekas bangun, kalau ditanam pada tempat angker di pojok tenggara atau timur, tapi jangan lebih dari 8 lembar, tempat itu menjadi punah angkernya
17. Isi sayapnya dimakan menyebakan hati kuat
18. Sayap dicampur minyak kelapa, dipakai mengurut, menghilangkan sakit beser, petek, gudig atau kudis
19. Kakinya ditanam disawah atau lading, menyebabkan subur, jika dipakai obat busung akan lekas sembuh
20. Kukunya dipakai menidurkan orang sakit lekas sembuh, jika dimakan dicintai wanita
21. jantungnya dimakan bisa mempercepat apa yang di kehendaki
22. Empedu direndam airnya diminum bisa kuat berjalan jauh
23. Ungsilan( limpa) dimakan akan dikasihi istri dan guru
24. Brutu dimakan oleh wanita disayang suami
25. Brutu dan bulu leher dibakar, abunya dimakan oleh wanita menyebabkan cantik rupanya
26. Kulitnya dipakai sabuk, menyebabkan kuat menahan sesuatu
27. Hatinya di usapkan Zakar menyebabkan kuat asmara
28. Pepusuhan(jantung) dicampur jamu atau air lalu diminum, menyebabkan orang kuat
29. Otot (urat) dimakan menghilangkan sakit linu
30. Bulunya semua di baker, abunya dibedakkkan pada orang sakit busung bisa lekas sembuh
31. Jika burung itu seluruh badannya di campur adas pulasari sedikit dipakai jamu diminum, anak yang sakit cepat sembuh

Burung Perkutut (titiran) yang baik

1. Kuku jarinya kedua jempolnya putih, bernama Srimangepel, peliharaan petani, yang memelihara kesampaian cita-citanya
2. Paruh dan sisik kakinya hitam bernama Wisnuwicitra, yang memelihara selamat, dari banyak upaya dan gangguan
3. Agak hitam seluruh badannya bernamaWisnumangemu, patut peliharaan orang yang berpangkat murah rejeki, lekas kaya
4. Paruh dan sisik kakinya putih bernama Kasumawicitra yang memelihara banyak rejekinya, mudah mencari segala cita-citanya jadi
5. banyak bulu ekornya 15 bernama Pendawa Mijil yang memelihara mudah dapat rejeki
6. Matanya merah bercahaya bersinar sebagai mirah bernama Purnama sidi, warna bulu keputih-putihan yang memelihara banyak orang saying, memberi kewibawaan
7. Mata kuning berkilau/ bercahaya bernama Mercu jiwa, yang memelihara dikasihi orang, mndatangkan rejeki dan selamat, jik keseluruhan badan dan kepalanya demikian, cocok peliharaan ratu
8. Seluruh badannya putih, adalah utamanya burung patut peliharaan raja
9. Waktu senja bersuara bernama Gedong meneb, akan memberi harta benda kepada yang memeliharanya
10. Pagi waktu matahari terbit bersuara, bernamaGedong menga, yang memelihara selamat, bisa menyimpan uang dan emas
11. Mata dan paruh kaki hitam, bernama Wisnu murti peliharaan raja, menjadi tumbal penolak penyakit atau perbuatan orang jahat, membawa keselamatan
12. Warna bulu pada lehernya agak kuning, bernama Udan mas, yang memelihara banyak rejekinya, harta bendanya cukup, dapat keuntungan yang besar
13. Suaranya bersusun bernama Widaksanagastagasti, amat baik yang memelihara tercapai segala cita-citanya, segala sesuatu tidak akan ditolaknya, dikasihi oleh orang banyak
14. Burung perkutut yang suaranya ngelik (keras ) bernama Muncis, memberi hati tenang, tentram, dimalui/ ditakuti orang
15. Jika suaranya ngelik-ngelik dan baik rupanya, selamat yang memelihara, jika dipakai memikat mudah dapat
16. Berkobar (bercahaya) sebagai api, dapat membuat kaya raya dan segala keinginannya tercapai, selamat wal’afiat
17. Burung perkutut yang bersarang di tanah, kotorannya baik dijadikan obat segala penyakit

Bumi – Bulan – Matahari

Jarak bumi terhadap matahari, kala revolusi dan kala rotasi

Nama Planet Jarak x 1juta km Kala revolusi Kala rotasi

Matahari - - 25 hari

Mercurius 58 88 hari 59 hari

Venus 108 224 hari 249 hari

Bumi 105 365,3 hari 23,6 jam

Mars 228 687 hari 24,6 jam

Yupiter 778 11,9 tahun 9,9 jam

Saturnus 1428 29,9 tahun 10,4 jam

Uranus 2867 84 tahun 10,8 jam

Neptunus 4495 164,8 tahun 15,7 jam

Pluto 5900 284,4 tahun 6,4 hari

Kala revolusi ialah lamanya suatu planet mengitari matahari 360’ pada orbitnya asing

Kala rotasi ialah gerakan berputar pada sumbunya dengan arah yang searah jarum jam

Akibat dan Pengaruh Revolusi Bumi

Sumbu bumi condong 23,5’ terhadap garis tegak lurus pada bidang ekliptika, selama bumi berevolusi dan arah sumbu bumi tidak berubah. Kala revolusi bumi 365,3 hari atau setahun dibagi atas 12 bulan, maka terdapat empat tanggal yang perlu kita perhatikan yaitu ; 21 maret, 21 juni, 23 september dan 22 desember.

1. 1. Tanggal 22 Desember

Sumbu bumi dan poros bumi –matahari membuat sudut 90’ + 23,5’ – 113,5’. Letak kutub utara paling jauh terhadap matahari, akibatnya adalah ;

* Daerah kutub utara terus menerus terlindung dari sinar matahari atau malam terus menerus, dan daerah malam total ini makin hari makin sempit dan disebut musim dingin di daerah bumi utara
* Kita di khatulistiwa melihat matahari berada di langit sebelah selatan, pada jam 12.00 siang sinar matahari tegak lurus pada garis 23,5’ lintang selatan itu kita sebut garis balik selatan
* Pada saat yang sama letak kutub selatan berada paling dekat dengan matahari, sehingga terjadi siang terus menerus, karena selalu menghadap matahari. Dan daerah ini makin hari makin sempit dan berakhir tanggal 21 maret. Pada saat itu letak bumi daerah selatan kita sebut daerah Perihelium. Bumi di titik perihelium pada tanggal 1 januari, kecepatan revolusi di daerah periheliuam rata-rata 30,2 km/jam yang merupakan kecepatan bumi tercepat, sehingga bumi berada di daerah perihelium tidak lama kurang dari 0,25 tahun, dengan kata lain musim dingin di belah bumi utara atau musim panas di selatan berlangsung lebih pendek atau kurang dari 3 bulan, dan ini dianggap lebih menguntungkan karena sebagian besar dari benua di belah bumi utara yang lebih singkat menderita karena musim dingin. Dan dari pengamatan pada tanggal 22 desember letak matahari berada pada satu arah dengan rasi bintang Capricorn, sehingga tgl tsb di sebut juga matahari berada pada titik capricornus

1. 2. tanggal 21 Maret dan 23 September

Pada kedua tgl ini bumi berada di arah yang berlawanan terhadap matahari, sumbu bumi membuat sudut 90’ terhadap porosbumi – matahari, sehingga kutub utara dan selatan terletak sama jauh terhadap matahari. Akibatnya ialah lamanya waktu siang sama dengan waktu lamanya malam, masing-masing. Pada jam 12.00 siang sinar matahari jatuh lurus pad khatulistiwa, kita sebut matahari berada pada titik okinoksi, artinya siang sama dengan waktu malam jam 12.00

1. 3. Pada tanggal 21 juni

Sumbu bumi dan poros bumi – matahari membuat sudut 90’ – 23,5’ = 66,5’. Kutub utara terletak paling dekat dengan matahari, akibatnya :

* Daerah kutub utara terus menerus mendapat sinar matahari atau terjadi siang terus menerus, daerah total siang ini makin lama makin sempit, selama waktu itu didaerah belah bumi utara sedang terjadi musim panas
* Kita di khatulistiwa melihat matahari berada di langit sebelah utara, pada jam 12.00 siang sinar matahari jatuh tegak lurus pada garis 23,5’ lintang utara, garis itu kita sebut Garis Balik (matahari) utara.
* Pada saat yang bersamaan kutub selatan terus menerus terlindung dari sinar matahari, sehingga terjadi malam terus menerus, kita katakana ini sebagai musim dingin. Pada saat itu bumi sedang berada di daerah Aphelium, dan ini terjadi pada tgl 1 juli, kecepatan revolusi di daerah ini rata-rata 29,2 km/jam, yang merupakan kecepatan rata-rata rendah. Dengan kata lain musim panas di daerah bumi utara atau musim dingin di selatan berlangsung lebih lama, dan ini menguntungkan daerah utara. Berdasar pengamatan dari bumi, matahari berada searah dengan rasi bintang cancer, sehingga pada tgl 21 juni itu disebut juga matahari berada di titik Cancer.

Peristiwa musim di bumi :

22 des 21 mar 21 jun 23 September 22 des

Utara dingin semi panas gugur

Selatan panas gugur dingin semi

Capricornus Cancer

Gerakan Rotasi Planet-Plamet

Gerakan rotasi terjadi bersamaan denagan gerak revolusi, dan gerakan ini merupakan gerakan berputar pada sumbunya dengan arah yang searah jarum jam, waktu yang dipergunakanuntuk sekali rotasi 360’ disebut rotasi. Selamama berotasi kedudukan sumbu planet condong dengan besar sudut yang berbeda-beda, seperti gambar di bawah ini ;

Kecondongan sumbu planet terhadap bidang edarnya

Merku Venus Bumi Mars Yupit Satr Urns Nep Pluto

6’ 9’ 23,5’ 26’ 3’ 236/8’ 98. 29.

Kala rotasi bumi kita sebut sehari semalam. Diantara 9 planet mempunyai kala rotasi yang sangat berbeda-beda, bila kala rotasi bumi 24 jam kita jadikan ukuran, maka kala rotasi merkurius 25 hari, venus 249 hari dan yupiter sangat cepat yaitu 9,9 jam. Yang kala rotasinya hampir sama dengan bumi adalah Mars 24,6 jam

Akibat-akibat dari rotasi

1. Terjadinya pergantian siang dan malam
2. Terjadinya perbedaan waktu setempat
3. Terjadinya pembelokan arah angina
4. Terjadinya pemepatan bumi di daerah kutub
5. Semua benda langit di luar bumi seolah-olah beredar dari timur ke barat

Pergantian siang malam

* Siang dan malam apabila muka bumi menghadap ke matahari, sehingga mendapat sinar langsung dari matahari
* Malam ialah apabila muka bumi membelakangi matahari sehingga tidak mendapat sinar langsung

Karena rotasi bumi sesuai arah jarum jam, maka siang dan malam selalu di mulai dari timur berurutan kearah barat, dengan demikian siang dan malam saling bergantian sambung menyambung terus menerus. Bagaimana cara pemberian nama hari ? dilakukan dengan perjanjian dan batas tempat yang disebut Batas garis tanggal internasional. Yaitu garis bujur barat/ timur 180, garis itu terletak membujur dari kutub utara – selatan di tengah-tengah samudera pasifik, sehingga tidak banyak mengganggu. Hari pertama dari tempat sebelah barat garis, terus berangsur ke baratm, jadi bila di sebelah barat garis dimulai dengan hari minggu, maka di sebelah garis sebelum hari minggu berarti hari sabtu, bila hari minggu kita terbang ke California dari Tokyo, kita sampai di California menghadapai malam minggu, demikian seterusnya.

Perbedaan waktu

Keliling khatulistiwa 360’ busur, sekali bumi berputar 360’ selama 24 jam, satu jam meliputi daerah waktu 360’ ; 24 = 15’, setiap 15’ berbeda waktu 1 jam, disebut perbedaan waktu setempat. Secara astronomis Indonesia terletak diantara 95’ BT – 111’ BT yang berarti sepanjang 46’ bujur bumi atau 3 x 15’ bujur bumi atau meliputi 3 daerah waktu setempat ; WIT ; maluku , irian, WITA ; kalimntan, sulawesi, NTB, NTT dan timor, WIB ; sumatera, jawa

Perhitungan tahun matahari

Perhitungan tahun yang berdasar revolusi dan rotasi bumi disebut tahun matahari, dan dasarnya adalah :

1. Kala rotasi bumi = 24 jam = sehari semalam, biasa disebut sehari
2. Kala revolusi bumi 365,25 x kala rotasi bumi = 365,25 hari = 1 tahun

Satu tahun berumur 365 hari dan ada kelebihan 6 jam setiap tahunnya , dan setiap tahun yang ke 4 atau angkanya habis di bagi 4 di beri umur 366 hari, disebut kabisat.

Pada abad 16 adanya keanehan di temukan, yaitu awal semi tidak lagi jatuh pada 21 maret, tetapi telah maju jauh, dan akhirnya diketemukan : kala revolusi bumi bukan 365 hari 6 jam , tetapi tepatnya ialah 365 hari 5 jam 56 menit, atau 365 hari 6 jam kurang 4 menit.

Peredaran Bulan

Bulan adalah satu-satunya satelit kita (bumi), sebagai benda langit bulan sekaligus melakukan 3 kali gerakan :

1. bulan berotasi pada sumbunya sesuai dengan arah jarum jam
2. bulan berevolusi mengitari bumi
3. terbawa bumi mengitari matahari

Muka bulan yang menghadap ke bumi selalu sama tidak berubah, artinya kala rotasi dan revolusi sama yaitu 27,3 hari. Pada waktu bulan baru, matahari, bulan dan bumi terletak dalam satu garis lurus.

1.
* Setiap hari bulan beredar (1 : 27,3) x 360’ = 13,2’
* Selama 27,3 hari bumi telah beredar menmpuh jarak 27,3’. Karena 1 hari bumi berevolusi 1’. Bulan dari kedudukan purnama untuk sampai pada kedudukan bulan purnama kembali harus menempuh 27,3’ dan putaran itu di tempuh bulan dalam waktu (27,3 : 13,2) hari, jadi dari bulan purnama ke purnama berikutnya memerlukan waktu 27,3 hari -/+ 2,2 hari = 29,5 hari

Perhitungan bulan dan tarikh

Pranoto Wongso

No Jawa Masehi Arab Jawa II

1. Kaso Juli – Agustus Sya’ban Ruwah

2. Karo Agustus – Sept Ramadhan Puasa

3. Katigo Sept – Oktober Syawal Syawal

4. Kapat Okt – Nop Zulkih Dulkaidah

5. Kalimo Nop – Des Zulhijah Besar

6. Kanem Des – Jan Muharam Sura

7. Kapitu Jan – Febr Safar Sapar

8. Kawolu Februari – Maret Robiulawal Maulud

9. Kasongo Maret – April Robiulakhir Bakdomaulud

10. Kasadaso April – Mei Jumadilawal Jumadilawal

11. Dhesto Mei – Juni Jumadilakhir Jumadilakhir

12. Sodho Juni – Juli Rajab Rajab

Dan masing-masing umat di Indonesia dalam menentukan hari-hari besarnya memakai cara berbeda-beda ada yang memakai perhitungan matahari, bulan dan ada yang menggabungkan keduanya, oleh karena itu kadang jatuhnya haripun jadi berbeda pula.




http://kyaimbeling.wordpress.com/mitologi-pasaran-dan-hari/

baca selengkapnya......

Semar

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar berjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

ciri sosok semar adalah

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi:

Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )

Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI

WECAN TUNJUNG SETA

TUMEKA KAKI SEMAR

GINUBAH DENING : PANEMBAHAN PRAMANA SETA ING GIRIMAYA

dandang gulo

1.INGSUN MELING MRING SIRA KALIHNYA

KANG DADYA SESENGGEMANE

NGIRIDA GUNG LELEMBUT

BALA SILUMAN NUSA JAWI

KABYANTOKNA SANG NATA

H E R U C A K R A P R A B U

NATA TEDHAKING BARATA

WIJILIRA ING KETANGGA SONYARURI

SAJRONING ALAS PUDHAK

2.DUK TIMURNYA BABARAN SURANDHIL

INGKANG IBU TEDHAKING MATARAM

KANG RAMA TRAHING RASULE

G I N A I P M I Y O S I P U N

SANG TUNJUNG SETA JEJULUK NEKI

DUK SIH KINEKER MARANG HYANG

KESAMPAR KESANDUNG

JALMA SAMYA KATAMBUHAN

TAN WIKAN MRING PUDHAK SINUMPET SINANDI

DEWA MANGEJAWANTAH

Paradoks Semar Oleh JAKOB SUMARDJO

PARA pencinta wayang kulit Jawa tentu tak asing lagi dengan tokoh Semar. Setiap pertunjukan tokoh ini selalu hadir. Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya.

Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar. Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).

Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.

Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian paradoks-paradoks yang rumit.

Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, Semar mahadewa di dunia bawah. Batara Guru penguasa kosmos (keteraturan) Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.

Batara Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat paling jelata. Batara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan — kebijaksanaan. Batara Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa wangsalan (sastra).

Batara Guru lebih banyak marah dan mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.

Batara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Batara Guru selalu hidup di lingkungan yang “wangi”, sedang Semar suka kentut sembarangan. Batara Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.

Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit. Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Batara Guru dan Batara Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih “tua”? Jawabannya terdapat dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).

Ketika Batara Semar protes kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal?) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya “ada” itu “tidak ada”, sedangkan yang “tidak ada” diterka “bukan”, yang “bukan” diterka “ya”.

Dengan demikian Batara Semar lebih “tua” dari adiknya Batara Guru. Semar itu “kakak” dan Batara Guru itu “adik”, suatu pasangan kembar yang paradoks pula.

Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor.

Kulitnya, luarnya, kasar, sedang dalamnya halus. ** DALAM ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni “manunggaling kawula-Gusti” (kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar ini.

Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.

Hukum-hukum negara yang baik dari atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Batara Guru, tetapi Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.

Semar adalah kakak lebih tua dari Batara Guru yang terhormat dan penuh etiket kenegaraan-kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di bawah.

Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap, digantikan oleh “yang lain”.

Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah. Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang, sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai anugerah. Batara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Batara Lengser.

Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi “turun”. Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang turun ke lapis paling bawah. Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas singgasananya yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang dihujat bawahan bawahannya. Seorang pemimpin tidak marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi rakyat.

Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang. Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.

Dewa Kekayaan berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga, yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan dengan watak Dewa Kasih Sayang.

Seorang pemimpin harus membela kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.

Dewa Api (keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut berseberangan dengan watak Dewa Angin.

Menumpas kejahatan dalam negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.

Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi hamba.

Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas, tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan

3.WUS PINASTI KANG MURBENG DUMADI

SANG TUNJUNG SETA KINARYA DHUTA

JUMENENG PARANPARANE

N G A D I L I N U S A N I P U N

NGASTHA DARMANING UMUM’

KALIS ING MAYANE NDOYA

WUS WINELEG MUKTI WIBAWANING DIRI

ING KETANGGA SILUMAN

4.SATRU MUNGSUH SAMYA HANGEMASI

TUMPES TAPIS KATAMAN PRABAWA

KASEKTEN SABDA CIPTANE

NGGEGIRISI BALANIPUN

WUJUD KALABANG KALAJENGKING

S I R U L L A H A J I N I P U N

P R A J U R I T L E L E M B U T

IKU KANG WEKAS INGWANG

SIRA NDEREK ANGEMONG ING TEMBE WURI

SANG NATA BINATHARA

5.WONG CILIK SAMYA SUKA ING ATI

GUMUYU MURAH SANDHANG LAN TEDHA

GUYUB RUKUN SESAMANE

SAMYA MADHEP SUMUJUD

NGARSENG HYANG WIDHI LAN NJENG GHUSTI

W E D I W E W A L A T I R A

WINGITING SANG RATU

MANANGKA JAMAN KENCANA

KAKANG SEMAR GYA TINDAKNA WELING MAMI

NGIRIDTA GUNG LELEMBUT

6.MANANGKA WELINGE SANG AJI

SRI JAYABAYA NATA BINATHARA

MRING SANG PAMONG KALIHE

KAKANG SEMAR UMATUR

PUKULUN JAYABAYA AJI

PUN KAKANG WUS ANAMPA

KABEH SABDANIPUN

DADYA PASEKSENING JANGKA

MANGEJA WANTAHIRA PADUKA AJI

SANG NATA BINATHAR

7.JUMENENGIRA GUSTHI PRIBADI

LAMUN JANGKANING NUSA TUMEKA

NORA ENDHAS LAN BUNTUTE

PUN KAKANG WUS SUMAGGUH

NGEMONG SANG TUNJUNG SETA AJI

LAN NGIRID BYANTOKNA

S A G U N G I N G L E L E M B U T

SINEGEG WAWAN SABDANYA

SRI JAYABAYA LAN PAMONGNYA KEKALIH

MECA JANGKANING NUSA





http://kyaimbeling.wordpress.com/semar/

baca selengkapnya......

Serat Dewa Ruci

Cerita tentang Ajaran Dewa Ruci kepada Arya Wrekudara /Arya sena/Bima ketika masuk ke dasar samudera guna memenuhi tugas gurunya mencari air penghidupan (Tirtamerta), yang disadur dari bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta, Yosodipuro

berjudul:”Serat Dewaruci Kidung” yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.Seperti apa kisahnya, maka kami informasikan intisarinya yaitu bahwa pihak kaum Kurawa dengan dinegeri Amarta, ingin menjerumuskan pihak Pandawa dinegeri Astina,(yang sebenarnya adalah:bersaudara) ke dalam kesengsaraan, melalui perantaraan guru Durna. Sena yang juga adalah murid guru Durno diberikan ajaran: bahwa dalam mencapai kesempurnaan demi kesucian badan ,Sena diharuskan mengikuti perintah sang Guru untuk mencari air suci penghidupan ke hutan Tibrasara. Sena mengikuti perintah gurunya dan yakin tidak mungkin teritipu dan terbunuh oleh anjuran Gurunya, dan tetap berniat pergi mengikuti perintah sang Guru,walaupun sebenarnya ada niat sang Guru Durno untuk mencelakaannya.

Diceritakan Pada saat di negeri Amarta ,Prabu Suyudana/raja Mandaraka/prabu Salya sedang rapat membahas bagaimana caranya Pandawa dapat ditipu secara halus agar musnah, sebelum terjadinya perang Baratayuda, bersama dengan Resi Druna, Adipati Karna, Raden Suwirya, Raden Jayasusena, Raden Rikadurjaya, Adipati dari Sindusena, Jayajatra, Patih Sengkuni, Bisma, Dursasana, dan lain-lainnya termasuk para sentana/pembesar andalan lainnya.

Kemudian Durna memberi petunjuk kepada Sena, bahwa jika ia telah menemukan air suci itu ,maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan, menonjol diantara sesama makhluk,dilindungi ayah-ibu, mulia, berada dalam triloka,akan hidup kekal adanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya ,untuk sementara mereka merayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum sepuas-puasnya.

Setelah sampai di gua gunung Candramuka, air yang dicari ternyata tidak ada, lalu gua disekitarnya diobrak-abrik. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala yang berada di gua terkejut, marah dan mendatangi Sena. Namun walau telah dijelaskan niat kedatangannya, kedua raksasa itu karena merasa terganggu akibat ulah Sena, tetap saja mengamuk. Terjadi perkelahian …….Namun dalam perkelahian dua Raksaksa tersebut kalah, ditendang, dibanting ke atas batu dan meledak hancur lebur. Kemudian Sena mengamuk dan mengobrak-abrik lagi sampai lelah,dalam hatinya ia bersedih hati dan berfikir bagaimana mendapatkan air suci tersebut.Karena kelelahan,kemudian ia berdiri dibawah pohon beringin.

Tak lama kemudian, Sena mendengar suara tak berwujud : “Wahai cucuku yang sedang bersedih,engkau mencari tidak menjumpai, engkau tidak mendapat bimbingan yang nyata, tentang tempat benda yang kau cari itu, sungguh menderita dirimu”. Diceritakan saat Sena sudah pasrah….. suara itu yang ternyata adalah dua dewa, Sang Hyang Endra dan Batara Bayu, yang memberitahu bahwa dua raksasa yang dibunuh Sena,ternyata memang sedang dihukum Hyang Guru. Lalu dikatakan juga agar untuk mencari air kehidupan, Sena di perintahkan agar kembali ke Astina.Perintah inipun dituruti lagi………

Setibanya di serambi Astina, saat lengkap dihadiri Resi Druna, Bisma, Suyudana, Patih Sangkuni, Sindukala, Surangkala, Kuwirya Rikadurjaya, Jayasusena, lengkap bala Kurawa, dan lain-lainnya, terkejut….! atas kedatangan Sena. Ia memberi laporan tentang perjalannya dan dijawab oleh Sang Druna :bahwa ia sebenarnya hanya diuji, sebab tempat air yang dicari, sebenarnya ada di tengah samudera. Suyudana juga membantu bicara untuk meyakinkan Sena.

Karena tekad yang kuat maka Senapun nekat untuk pergi lagi….., yang sebelumnya ia sempat mampir dahulu ke Ngamarta.(tempat para kerabatnya berada)

Sementara itu di Astina keluarga Sena yang mengetahui tipudaya pihak Kurawa mengirim surat kepada prabu Harimurti/Kresna di Dwarawati, yang dengan tergesa-gesa bersama bala pasukan datang ke Ngamarta. Setelah menerima penjelasan dari Darmaputra, Kresna mengatakan bahwa janganlah Pandawa bersedih, sebab tipu daya para Kurawa akan mendapat balasan dengan jatuhnya bencana dari dewata yang agung.

Ketika sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Sena, yang membuat para Pandawa termasuk Pancawala, Sumbadra, Retna Drupadi dan Srikandi, dan lain-lainnya, senang dan akan mengadakan pesta. Namun tidak disangka, karena Sena ternyata melaporkan bahwa ia akan meneruskan pencarian air suci itu, yaitu ke tengah samudera. Nasehat dan tangisan, termasuk tangisan semua sentana laki-laki dan perempuan, tidak membuatnya mundur.

Sena berangkat pergi, tanpa rasa takut keluar masuk hutan, naik turun gunung, yang akhirnya tiba di tepi laut. Sang ombak bergulung-gulung menggempur batu karang bagaikan menyambut dan tampak kasihan kepada yang baru datang, bahwa ia di tipu agar masuk ke dalam samudera, topan datang juga riuh menggelegar, seakan mengatakan bahwa Druna memberi petunjuk sesat dan tidak benar.

Bagi Sena, lebih baik mati dari pada pulang menentang sang Maharesi, walaupun ia tidak mampu masuk ke dalam air, ke dasar samudera. Maka akhirnya ia berpasrah diri, tidak merasa takut, sakit dan mati memang sudah kehendak dewata yang agung, karena sudah menyatakan kesanggupan kepada Druna dan prabu Kurupati, dalam mencari Tirta Kamandanu, masuk ke dalam samudera.

Dengan suka cita ia lama memandang laut dan keindahan isi laut, kesedihan sudah terkikis, menerawang tanpa batas, lalu ia memusatkan perhatian tanpa memikirkan marabahaya, dengan semangat yang menyala-nyala mencebur ke laut, tampak kegembiraannya, dan tak lupa digunakannya ilmu Jalasengara, agar air menyibak.

Alkisah ada naga sebesar segara anakan, pemangsa ikan di laut, wajah liar dan ganas, berbisa sangat mematikan, mulut bagai gua, taring tajam bercahaya, melilit Sena sampai hanya tertinggal lehernya, menyemburkan bisa bagai air hujan. Sena bingung dan mengira cepat mati, tapi saat lelah tak kuasa meronta, ia teringat segera menikamkan kukunya, kuku Pancanaka, menancap di badan naga, darah memancar deras, naga besar itu mati, seisi laut bergembira.

Sementara itu Pandawa bersedih hati dan menangis memohon penuh iba, kepada prabu Kresna. Lalu dikatakan oleh Kresna, bahwa Sena tidak akan meninggal dunia, bahkan mendapatkan pahala dari dewata yang nanti akan datang dengan kesucian, memperoleh cinta kemuliaan dari Hyang Suksma Kawekas, diijinkan berganti diri menjadi batara yang berhasil menatap dengan hening. Para saudaranya tidak perlu sedih dan cemas.

Kembali dikisahkan Sang Wrekudara yang masih di samudera, ia bertemu dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas laut, bernama Dewa Ruci. Lalu ia berbicara :”Sena apa kerjamu, apa tujuanmu, tinggal di laut, semua serba tidak ada tak ada yang dapat di makan, tidak ada makanan, dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering yang tertiup angin, jatuh didepanku, itu yang saya makan”. Dikatakan pula :”Wahai Wrekudara, segera datang ke sini, banyak rintangannya, jika tidak mati-matian tentu tak akan dapat sampai di tempat ini, segalanya serba sepi. Tidak terang dan pikiranmu memaksa, dirimu tidak sayang untuk mati, memang benar, disini tidak mungkin ditemukan”.

“Kau pun keturunan Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, kau keturunan dari Sang Hyang Brama asal dari para raja, ayahmu pun keturunan dari Brama, menyebarkan para raja, ibumu Dewi Kunthi, yang memiliki keturunan, yaitu sang Hyang Wisnu Murti. Hanya berputra tiga dengan ayahmu, Yudistira sebagai anak sulung, yang kedua dirimu, sebagai penengah adalah Dananjaya, yang dua anak lain dari keturunan dengan Madrim, genaplah Pandawa, kedatanganmu disini pun juga atas petunjuk Dhang Hyang Druna untuk mencari air Penghidupan berupa air jernih, karena gurumu yang memberi petunjuk, itulah yang kau laksanakan, maka orang yang bertapa sulit menikmati hidupnya”, lanjut Dewa Ruci.

Kemudian dikatakan :”Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah”.

Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan

“Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa sena bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”.Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.

Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.

Ada empat macam benda yang tampak oleh Sena, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.

Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.

Lalu Wrekudara melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.

Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.

Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.

Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.

Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara.

Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan, semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia, dalam segala janji janganlah ingkar.

Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah. Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju pada nafsu.

Wrekudara setelah mendengar perkataan Dewa Ruci, hatinya terang benderang, menerima dengan suka hati, dalam hati mengharap mendapatkan anugerah wahyu sesungguhnya. Dan kemudian dikatakan oleh Dewa Ruci :”Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan.

Dewa Ruci selesai menyampaikan ajarannya, Wrekudara tidak bingung dan semua sudah dipahami, lalu kembali ke alam kemanusiaan, gembira hatinya, hilanglah kekalutan hatinya, dan Dewa Ruci telah sirna dari mata,

Wrekudara lalu mengingat, banyak yang didengarnya tentang tingkah para Pertapa yang berpikiran salah, mengira sudah benar, akhirnya tak berdaya, dililit oleh penerapannya, seperti mengharapkan kemuliaan, namun akhirnya tersesat dan terjerumus.

Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira dapat mencapai kesempurnaan dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu.

Guru yang benar, mengangkat murid/cantrik, jika memberi ajaran tidak jauh tempat duduknya, cantrik sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi keduanya.

Tingkah manusia hidup usahakan dapat seperti wayang yang dimainkan di atas panggung, di balik layar ia digerak-gerakkan, banyak hiasan yang dipasang, berlampu panggung matahari dan rembulan, dengan layarnya alam yang sepi, yang melihat adalah pikiran, bumi sebagai tempat berpijak, wayang tegak ditopang orang yang menyaksikan, gerak dan diamnya dimainkan oleh Dalang, disuarakan bila harus berkata-kata, bahwa itu dari Dalang yang berada dibalik layar, bagaikan api dalam kayu, berderit oleh tiupan angin, kayu hangus mengeluarkan asap, sebentar kemudian mengeluarkan api yang berasal dari kayu, ketahuilah asal mulanya, semuanya yang tergetar, oleh perlindungan jati manusia, yang yang kemudian sebagai rahasia.

Kembali ke Negeri Ngamarta

Tekad yang sudah sempurna, dengan penuh semangat, Raden Arya Wrekudara kemudian pulang dan tiba ke negerinya, Ngamarta, tak berpaling hatinya, tidak asing bagi dirinya, sewujud dan sejiwa, dalam kenyataan ditutupi dan dirahasiakan, dilaksanakan untuk memenuhi kesatriaannya. Permulaan jagad raya, kelahiran batin ini, memang tidak kelihatan, yang bagaikan sudah menyatu, seumpama suatu bentukan, itulah perjalanannya.

Bersamaan dengan kedatangan Sena, di Ngamarta sedang berkumpul para saudaranya bersama Sang Prabu Kresna, yang sedang membicarakan kepergian Sena, cara masuk dasar samudera. Maka disambutlah ia, dan saat ditanya oleh Prabu Yudistira mengenai perjalanan tugasnya, ia menjawab bahwa perjalanannya itu dicurangi, ada dewa yang memberi tahu kepadanya, bahwa di lautan itu sepi,tidak ada air penghidupan. Gembira mendengar itu, lalu Kresna berkata :”Adikku ketahuilah nanti, jangan lupa segala sesuatu yang sudah terjadi ini”.

atas permintaan kaum kurawa
durna memasang muslihat untuk melenyapkan bima
dengan menugasinya mencari tirta-prawita-adi
sebagai sarana pembuka pengetahuan sejati
yang bertempat di hutan tibrasara di gunung candramuka

setelah mengirim barisan-pendem untuk mencelakakan arya sena suyudana pulang ke permaisuri banowati dan putrinda leksmanawati
sementara sangkuni dan kurawa lengkap berangkat berkuda

pada saat yang sama di saptapratala,
batara anantaboga dan dewi suparti menerima sasmita dewata
bahwa bima menantu mereka akan menerima cobaan
sang dewi suparti segera silih warna sebagai naga
berangkat untuk membantu sang menantu
di perjalanan bersua para kurawa dan bertempur,
namun para kurawa segera menyimpang jalan
naga jelmaan segera melanjutkan langkah
dan bertapa di gua sigrangga

di sapta arga, resi abyasa sedang dihadap arjuna dan para punakawan
melaporkan bahwa arya sena hendak dicelakakan danghyang durna
abyasa menyuruhnya mencegah, namun bila berkeras,
doakanlah agar semua langkahnya membawa hasil sepadan

di tengah rimba dalam perjalanan pulang,
arjuna cs bertemu sepasang macan, sang kesara dan sang kesari,
macan ditewaskan badhar menjadi batara brahma dan dewi saraswati
brahma memberi wangsit bahwa bima akan memperoleh nugraha
brahma dan isteri kembali makahyangan

yudistira bima nakula sadewa dan kresna di amarta
kresna ikut menahan bima agar membatalkan niatnya
namun bima berkeras bahwa mencari tirta adi di gunung candramuka
adalah bukti baktinya pada bapa guru durna
serta demi mengejar pemahaman inti pengetahuan sejati
arjuna datang dan melaporkan semua yang diketahuinya
sena tetap tidak bisa ditahan dan pamit berangkat

i gunung candramuka sang sena bertindak membabibuta
segala bukit batu dan pohon besar dibongkar berantakan
namun apa yang dicari tetap tak bersua juga

rukmuka dan rukmakala, sepasang raksasa di gunung candramuka
murka melihat arya sena membongkar hutan semena-mena
pertarungan tak terelakkan dan kedua raksasa musnah
kembali ke wujud semula: hyang indra dan hyang bayu
yang memberikan ajian jalasengara dan senjata ekal druwendra
kemampuan memasuki air tanpa kesulitan (jalasengara)
kedua batara memberi wisikan pula
bahwa sebenarnya permintaan durna hanyalah tipu daya
namun semua usaha yang dilakukan secara bersungguh-sungguh
senantiasa akan berbuah sepadan
sang bima segera kembali ke astina
untuk menanyakan pada sang guru

sekembali di astina, durna memberitahu
bahwa tugas terdahulu hanyalah penguji tekad muridnya
tempat yang sebenarnya adalah di tengah samudra
bima segera kembali ke amarta untuk pamit kedua kalinya

di amarta kembali semua kadang menahan kepergian bima
namun sekali lagi bima tak bisa ditahan dan berangkat segera

sesampai di gua sigrangga bima disambar oleh naga suparti
bertempur sejenak naga kalah dan kembali ke wujud aslinya
kemudian membisikkan tentang muslihat durna
namun jangan menurunkan semangat bukti bakti sang menantu
agar tetap memperoleh nugraha atasnya
sang sena diminta segera meneruskan ke samudera
lalu lenyaplah sang dewi
dan byar, arya sena sudah berada di tepian samodera

engan benak hanya terisi satu tujuan
menaati permintaan guru durna
sang bima mencebur ke tengah samudera
ombak menyaput sampai ke leher dan kepala
termangu sejenak sang bima membayangkan ancaman maut
namun teringat pada aji jalasengara pemberian dewata

seekor naga raksasa, sang nemburnawa, datang menghadang
pertarungan di air membuat seisi samudera bergolak
namun akhirnya sang naga tewas oleh kuku pancanaka
samudera kembali hening tenteram
sunyi

tak lama kemudian tampaklah seorang anak bajang di atas air
melambai pada bima agar menghampir
lalu mewejang dengan berbagai ilmu sejati
penguak segala rahasia alam semesta
usai mewejang musnahlah sang dewaruci
dan sang sena sudah kembali berada di alam nyata
kembali ke amarta

di tepi samodra menunggu arya sangkuni dan para kurawa
menduga sudah tewaslah sang tonggak pandawa
melihat munculnya sang bima para kurawa maju mengerubut
bima berhasil menghindar, hendak segera kembali ke amarta
para kurawa segera membuntuti mengejar

murung yang melela di amarta sirna seketika
oleh munculnya arya bima yang sehat tak kurang suatu apa
wajahnya tampak bersinar cemerlang oleh cahaya surgawi

kerusuhan di belakangnya oleh ulah para kurawa
segera berhasil dipadamkan oleh sang bima
kurawa bubar berantakan tanpa sisa

bima segera menyampaikan segala yang dialaminya
pada kresna dan kadang pandawa
semua berbahagia
keceriaan alam telah kembali mewarnai istana amarta
sang bima telah menemukan segala yang dikehendakinya
pengetahuan tentang hakekat hidup sejati

MAKNA AJARAN DEWA RUCI

Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.

Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.

Pencarian air suci Prawitasari

Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.

Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka

Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.

1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.

2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.

Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.

Raksasa Rukmuka dan Rukmakala

Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.

Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).

Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)

Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.

Samudra dan Ular

Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.

Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1. Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.

2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.

3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.

4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.

5. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.

6. Santosa : selalu berada dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.

7. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.

8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.

9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.

10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.

11. Samadi.

12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.

Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci

Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.

Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :

Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.

Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.

Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.

Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima

Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat didalam paningal.

Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.

Tusuk konde besar dari kayu asem

Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.

Tanda emas diantara mata.

Artinya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.

Kuku Pancanaka

Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.

Melambangkan :

1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.

2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.

Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.





http://kyaimbeling.wordpress.com/serat-dewa-ruci/

baca selengkapnya......